Ind komunitas

Hallo pengunjung silakan register
 
PortailIndeksPendaftaranLogin

Share | 
 

 Babak Baru Dalam Dunia Sel Induk

Go down 
PengirimMessage
root admin
Member
Member


Jumlah posting : 31
Registration date : 13.12.07

PostSubyek: Babak Baru Dalam Dunia Sel Induk   Mon Dec 17, 2007 5:40 pm

Dunia riset stem cell digemparkan oleh
penemuan baru yang diumumkan melalui dua jurnal bergengsi, yakni
Science, yang melaporkan hasil penemuan dari James Thomson dari
Universitas Wisconsin di Madison, dan jurnal Cell yang melaporkan hasil
penelitian Shinya Yamanaka dari Universitas Kyoto dalam edisi 20
November 2007.

Thomson inilah orang pertama yang berhasil mengisolasi dan
mengembangkan stem cell babi pada tahun 1996 dan stem cell manusia in
vitro tahun 1998.

Penemuan ini sangat spektakuler dilihat dari pelbagai aspeknya,
khususnya dari aspek etikanya, karena tidak menimbulkan debat etika
dari pelbagai sudut pandang, baik agama maupun humanisme.

Stem cell, yang dalam bahasa Indonesia disebut sebagai sel induk,
adalah sel yang mempunyai kemampuan untuk membelah diri tanpa
terspesialisasi. Dengan kata lain, stem cell mempunyai kemampuan untuk
otoregenerasi (mereplikasikan diri) dalam waktu yang tak terbatas
dengan tetap tidak terspesialisasi untuk menjadi sel tertentu; dengan
rangsangan dan kondisi tertentu, stem cell bisa menumbuhkan sel yang
terspesialisasi. Ini berbeda dengan sel manusia lainnya di mana sel-sel
itu sudah terspesialisasi sehingga sel-sel itu hanya bisa menjadi
jaringan yang menjadi bagiannya dan tidak bisa menjadi sel lainnya.

Oleh karena sifatnya yang bisa menjadi banyak macam sel itu, stem
cell bisa dipakai untuk terapi regeneratif dan reparatif dari
penyakit-penyakit yang diakibatkan oleh karena kerusakan sel, misalnya
parkinson, alzheimer, huntington, dan masih banyak yang lainnya.
Sel-sel yang rusak itu akan diganti oleh sel baru yang berasal dari
stem cell itu.

Sampai sekarang yang banyak diteliti oleh para ahli ialah stem cell
yang diambil dari embrio (embryonic stem cell) dan stem cell yang
diambil dari antara sel-sel somatis (somatic stem cell atau juga
disebut adult stem cell).

Para ahli lebih memilih mengembangkan embryonic stem cell karena
adult stem cell itu jumlahnya sedikit, lebih sulit didapat dan hanya
bisa menjadi beberapa jenis sel saja. Sedangkan embryonic stem cell
persis kebalikannya, yakni pluripotent (bisa menjadi sel apa saja dalam
diri manusia kecuali plasenta dan air ketuban), lebih mudah di dapat
dalam jumlah yang banyak.

Hanya saja, embryonic stem cell terhadang masalah moral yang sangat berat.

Pengambilan stem cell dari embrio itu pasti mengakibatkan kematian
embrio itu sehingga program ini terhadang masalah etika yang disamakan
dengan aborsi. Oleh karena sifat abortif inilah, banyak pihak menentang
pemakaian embryonic stem cell. Bahkan Presiden George Bush memveto dua
undang-undang pemakaian dana federal untuk riset stem cell ini.

Dalam aplikasinya, stem cell ini berkolaborasi dengan sangat erat
dengan kloning manusia (therapeutic cloning). Supaya tidak timbul
penolakan dari tubuh si pasien, stem cell yang diinjeksikan ke dalam
tubuh pasien perlu kesamaan genetis.

Untuk mendapatkan stem cell yang cocok secara genetis dengan pasien,
maka dilakukan kloning dari sel somatis pasien itu. Dari kloning itu
akan dihasilkan embrio yang kemudian diambil stem cell-nya.

Poin inilah yang sangat krusial karena dengan membuat embrio melalui
kloning ini, banyak pihak berpendapat bahwa telah terjadi makhluk hidup
baru yang harus dihormati hak hidupnya dan tidak boleh dibunuh. Salah
satu prinsip etis yang disodorkan ialah: tidak boleh menyembuhkan orang
dengan cara membunuh orang lain.

Babak baru
Apa yang dibuat Thomson dan Yamanaka berhasil mengatasi kedua
penghalang itu, yakni dari segi teknis dia berhasil membuat stem cell
yang mempunyai karakter mirip sekali dengan embryonic stem cell dan
dari segi etis juga tidak menimbulkan masalah karena tidak harus
melalui proses kloning yang membuat embrio manusia.

Apa persis yang dibuat oleh Thomson dan Yamanaka? Secara singkat
mereka bisa membuat sel-sel kulit menjadi stem cell yang punya karakter
seperti embryonic stem cell tanpa harus melakukan kloning. Kedua tim
itu sama-sama memakai empat jenis gen yang dimasukkan ke dalam sel
kulit, tetapi jenisnya ada yang berbeda. Yamanaka memakai OCT3/4, SOX2,
KLF4, dan c-MYC, sedangkan Thomson memakai OCT4, SOX2, NANOG, dan
LIN28. Yamanaka memakai sel kulit dari seorang perempuan berumur 36
tahun, sedangkan Thomson memakai sel kulit dari bayi yang baru lahir.

Mereka mengubah sel-sel kulit yang biasa menjadi apa yang mereka
sebut sebagai induced pluripotent stem cells (iPS) yang berkarakter
seperti embryonic stem cell. Kesamaan karakter ini meliputi hampir
semua bidang, baik dalam penampilan maupun tingkah laku genomiknya.

Dalam percobaannya, iPS itu ternyata bisa membuat tiga germ layers,
di mana lapisan pertamanya akan menjadi semua jaringan dan organ
manusia. Dari iPS itu juga ternyata bisa dikembangkan menjadi sel-sel
saraf, otot, tulang rawan dan bahkan juga otot-otot jantung. Dalam
percobaan yang mereka buat, setelah 12 hari pembiakan, ternyata sel-sel
itu mulai berdenyut seperti otot jantung.

Riset ini masih merupakan riset awal sehingga Yamanaka sendiri
mengatakan bahwa terlalu dini untuk mengatakan iPS ini akan bisa
menggantikan embryonic stem cell. Efisiensi teknik ini memang masih
sangat rendah karena dari 50.000 sel kulit yang dipakai, mereka hanya
mendapatkan 10 iPS. Namun, teknik ini masih bisa dikembangkan lebih
lanjut supaya lebih efisien.

Yamanaka sangat optimistis dengan penemuannya itu, bahkan dia
mengatakan teknik yang sama ini bisa dipakai untuk membuat sel telur
dan sperma dari sel kulit. Kalau ini terjadi, maka akan banyak menolong
pasangan yang menginginkan anak, tetapi tidak bisa oleh karena pasangan
itu tidak mempunyai sperma atau ovum.

Secara teknis dan etis, keberhasilan Thomson dan Yamanaka ini
merupakan langkah yang sangat spektakuler. Dari segi teknis,
keberhasilan ini mengatasi masalah teknik yang sangat pelik. Untuk
memperoleh embryonic stem cell diperlukan jalan yang panjang dan mahal
melalui kloning.

Kloning memerlukan ovum sebagai media pertumbuhan nukleus (inti sel)
sel somatis yang dimasukkan ke dalam ovum yang sudah dibuang
nukleusnya. Oleh karena keberhasilan kloning ini juga masih sangat
rendah, maka untuk mendapatkan stem cell itu diperlukan ovum manusia
yang jumlahnya cukup besar.

Pada zaman sekarang ini semakin sulit ditemukan perempuan yang
dengan sukarela menyumbangkan ovumnya untuk keperluan penelitian.
Kalaupun harus membeli, harganya juga sangat mahal, bisa mencapai 2.500
dollar AS per buah. Oleh karena itu, program ini menjadi sangat mahal.

Pengambilan ovum dari perempuan juga mengandung risiko kesehatan
yang tidak kecil untuk perempuan itu karena adanya suntikan hormon
kesuburan yang memungkinkan ovulasi lebih dari satu ovum.

Dari segi etis, penemuan ini mengatasi penghalang utama riset
embryonic stem cell, yakni penciptaan embrio manusia untuk keperluan
riset. Membuat embrio untuk riset dan bukan untuk diimplantasikan ke
dalam rahim merupakan pelanggaran etika yang tidak bisa diterima.

Belum lagi pandangan banyak pihak, termasuk para agamawan, bahwa
hidup manusia itu sudah dimulai sejak saat zigot sehingga zigot itu
tidak boleh dibunuh. Dalam program embryonic stem cell yang sudah ada
sampai sekarang, mau tidak mau para ahli harus membuat zigot ini. Tentu
saja ini mengandung masalah etika yang tidak kecil.

Dipuji semua pihak
Jarang ada sebuah penemuan teknologi yang dipuji semua pihak. Penemuan
baru oleh Yamanaka dan Thomson ini dipuji dan diterima oleh pelbagai
pihak, baik para peneliti sendiri maupun para etikawan serta para
komunitas religius.

Para peneliti menyambut dengan sangat antusias break through ini
karena teknologi ini akan sangat menghemat biaya, baik bahan bakunya
maupun teknologi peralatannya. Thomson sendiri berkomentar, "Pada
prinsipnya, ribuan laboratorium yang tersebar di seluruh AS mulai besok
bisa mengerjakannya."

Para etikawan dan kelompok religius juga menyambutnya dengan gembira
karena penemuan ini menjadi akhir dari kontroversi yang menyelimuti
riset stem cell. Bahkan mereka mengatakan bahwa inilah salah satu hasil
dari para aktivis pro life yang mendesak para ahli untuk menemukan cara
memperoleh stem cell yang sangat berguna ini tanpa harus melanggar
harkat dan martabat manusia.

Ternyata, para ahli bisa menunjukkan kepiawaiannya untuk mengatasi
hal ini dengan menciptakan stem cell yang tanpa harus membuat dan
membunuh embrio manusia.

CB Kusmaryanto Dosen Bioetika pada Pascasarjana Universitas Gadjah Mada dan Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

Sumber: Kompas
Kembali Ke Atas Go down
 
Babak Baru Dalam Dunia Sel Induk
Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
Ind komunitas :: Kecantikan , Tips hidup Sehat-
Navigasi: